Slideshow

Sabtu, 31 Agustus 2013

Improving Learning Achievement in Chemistry -Based Local Wisdom Approach through Tri Premana

Improving Learning Achievement in Chemistry -Based Local WisdomApproach through Tri Premana
By : I Gusti Ngurah Mataram================================================== ========
Classroom action research was motivated by the finding that highly abstract material in class X semesters 1, so it needs a high level of understanding of the basic competencies for student achievement . Because the material is abstract and difficult difaktakan , the XH -class students as a superior class that has the ability to be very precise in order to solve these problems so that the learning can be run as a program. Competence is the cognitive, psychomotor and apektif . Specifically this study aims to improve students' learning competencies particularly good at chemistry subjects on cognitive abilities , and psychomotor apektif .This research is a classroom action research qualitative data were analyzed descriptively . The study involved 25 people subject XH class first semester students of SMA Negeri 1 Rendang academic year 2011/2012 . Object of this study is on cognitive competence , apektif , and psychomotor as well as students' response to learning through an approach based on local wisdom Tri Preamana . Classroom action research was conducted in two cycles . Each cycle there are three meetings and one meeting for the implementation and evaluation of data for student responses . Data were collected using a cognitive achievement test in the form of multiple choice questions . Data on aspects of psychomotor apektif and acquired during the learning process or during the discussion / lab , whose judgment assisted by a kind teacher (MGMP) and student responses were collected using a questionnaire . Collected data were then analyzed by descriptive qualitative .The results showed that learning through an approach based on local wisdom Tri Premana showed that the cognitive aspect ( KKM 70 ) there is an increase in learning outcomes of classical completeness 66.80 to 76.00 % in the first cycle , a 77.60 in the second cycle with classical completeness 100.00 % . There is an increase in the aspect apektif students to follow the learning attitude of 11.05 in the category that is good in the first cycle , to 13.04 in the category of very good in the second cycle . On aspects of psychomotor skills also increase students during the learning process , from 10.52 in the category is quite high in the first cycle , a 11.84 in the high category on the second cycle . Similarly, students' opinions toward applied learning students feel happy and high antusiasismenya proved in the first cycle shall be equal to 46.20 ( positive ) , to 61.52 ( very positive ) on the second cycle .
Keywords : Improvement , Learning Achievement , Tri Pramana

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA MELALUI PENDEKATAN TES


ABSTRAK

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA MELALUI PENDEKATAN TES
Oleh : I Gusti Ngurah Mataram, S.Pd. M.Si, , NIP. 19700430.199802.1.005
==========================================================
Kurikulum pada prinsipnya berfungsi sebagai tolak ukur dalam keberhasilan suatu pendidikan dan  pembenahan dalam menata, merancang kualitas pendidikan anak bangsa. Namun demikian, temuan menunjukkan bahwa  masih rendahnya kualitas proses pembelajaran yang bermuara pada rendahnya pencapaian kompetensi dasar siswa. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek  kognitif, apektif, psikomotor siswa dalam pembelajaran kimia, serta mendeskripsikan respon siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan TES untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang melibatkan subyek sebanyak 33 orang siswa kelas XI PSIA-3 SMA Negeri 1 Rendang tahun Pelajaran 2010/2011. Objek penelitian ini adalah  kompetensi dasar pada aspek kognitif, apektif, psikomotor dan  respon siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan TES. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam tiga siklus. Data aspek kognitif dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar berupa soal pilihan ganda dan respon siswa dikumpulkan dengan menggunakan angket. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan TES dalam pembelajaran kimia, dapat meningkatkan kompetensi dasar pada aspek kognitif siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 57,58 (33,33%) pada siklus I, 66,67 (51,52%) pada siklus II dan 76,36 (100%) pada siklus III. Pada aspek apektif diperoleh nilai rata-rata 9,47 dengan katagori cukup baik (48,48%) pada siklus I. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 11,20 dengan katagori  baik (57,58%) dan pada siklus III  diperoleh nilai sebesar 13,19 dengan katagori sangat baik (60,61%). Pada aspek psikomotor diperoleh nilai rata-rata 8,43 dengan katagori kurang tinggi (48,48%) pada siklus I, pada siklus II  nilai rata-rata 10,11 dengan katagori cukup tinggi (57,58%) dan pada siklus III nilai rata-rata 12,10 dengan katagori tinggi (60,61%). Demikian halnya dengan respon siswa terhadap pembelajaran melalui pendekatan TES diperoleh nilai rata-rata  37,18 dengan katagori kurang positif (57,58%) pada siklus I. Pada  siklus II diperoleh nilai rata-rata 46,36 ada pada katagori cukup positif (57,58%),  Pada siklus III diperoleh nilai rata-rata 55,27 dengan katagori positif (63,64%).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan TES dapat diterima siswa dalam upaya meningkatkan hasil belajar yang lebih baik.

Kata kunci: Pembelajaran  TES, Hasil Belajar

Senin, 20 Mei 2013

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MODEL WAVE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA SISWA SMA
NEGERI 1 RENDANG        
 Art Mtr13

Abstract: The Implementation of WAVE Model to Improve Students’ Learning Achievement of Chemistry at SMA Negeri 1 Rendang.This research is a classroom action research involving students of class XI PSIA-1 SMA Negeri 1 Rendang. This study aims to improve student learning outcomes in the cognitive (knowledge), affective (attitude), psychomotor (skills), and describe the response (opinion) on the implementation of student learning model WAVE. The results showed that the implementation of WAVE model could be accepted by the students in order to improve their learning achievement and basic competence. It can be seen from the mean score of the cognitive aspect: 57.81 (34.38%) in the first cycle, 66.88 (53.13%) in the second cycle, and 76.56 (100%) in the third cycle. In the affective aspect, the mean scores are 8.05 (50.00%) under unfavorable category in the first cycle, 10.45 (62.50%) under sufficient category in the second cycle, and 11.97 (75.00%) with good category in the third cycle. In the psychomotor aspect, the mean scores are 8.64 (53.13%) under less high category in the first cycle, 10.66 (59.38%) classified quite high category, and 12.67 (62.50%) under high category. The students’ response in terms of the mean scores show 37.19 (56.25%) categorized less positive in the first cycle, 46.66 (59.38%) categorized positive enough, and 55.84 (65.63%) categorized positive.

Abstrak: Implementasi Pembelajaran Model WAVE untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa SMA Negeri 1 Rendang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang melibatkan siswa kelas XI PSIA-1 SMA Negeri 1 Rendang. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek  kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), psikomotor (keterampilan), dan  mendeskripsikan respon (pendapat) siswa terhadap implementasi model pembelajaran WAVE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran WAVE dapat diterima siswa dalam upaya meningkatkan hasil belajar yang lebih baik dan dapat meningkatkan kompetensi dasar siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata aspek kognitif 57,81 (34,38%) pada siklus I, 66,88 (53,13%) pada siklus II dan 76,56 (100%) pada siklus III. Pada aspek afektif  nilai rata-rata 8,05 katagori kurang baik (50,00%) pada siklus I, 10.45 katagori cukup  baik (62,50%) pada siklus II dan 11,97 katagori baik (75,00%) pada siklus III. Pada aspek psikomotor nilai rata-rata 8,64  katagori kurang tinggi (53,13%) pada siklus I, pada siklus II  nilai rata-rata 10,66 katagori cukup tinggi (59,38%) dan pada siklus III nilai rata-rata 12,67 katagori tinggi (62,50%). Demikian halnya dengan respon siswa nilai rata-rata  37,19 katagori kurang positif (56,25%) pada siklus I, di siklus II nilai rata-rata 46,66 ada pada katagori cukup positif (59,38%), dan pada siklus III diperoleh nilai rata-rata 55,84  katagori positif (65,63%). 
 Kata-kata Kunci: Pembelajaran  WAVE, Hasil Belajar


UJIAN NASIONAL SARAT MASALAH
BUKTI CARUT MARUTNYA PENDIDIKAN
(IGN. Mataram)

Tiket untuk menuju masyarakat jujur dan demokratis sudah didepan pintu. Pemerintah dalam setiap tahunnya mengukur tingkat keberhasilan pendidikan melalui ujian.  Ujian nasional kali ini  sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yaitu dengan pemberlakuan 20 paket soal dengan penuh persiapan matang. Ujian yang rencananya dilaksanakan mulai 15–18 April 2013 di tingkat SMA/K gagal dilaksanakan di 11 provinsi di Indonesia. Kegagalan tersebut akan dilaksanakan  mulai tanggal 18, 19, 22, 23 April 2013 untuk SMA/K. Diundurnya pelaksanaan ujian nasional berdampak secara psikologis terhadap mental siswa. Apapun alasannya, yang pasti ujian kali ini sarat masalah dan telah membuat masyarakat kecewa terhadap pemegang kebijakan baik secara teknis dan non teknis untuk mencetak anak bangsa yang tegas dan konsisten. Disamping diundurnya pelaksanaan ujian, juga bagi sekolah yang telah melaksanakannya banyak soal yang kosong, mata pelajaran yang tertukar, lembar jawaban yang rusak, dan banyak lagi yang perlu diantisifasi.  .....................
Setiap pelaksanaan ujian nasional selalu muncul opini negatif dari  berbagai ketimpangan dan ketidakjujuran terhadap dokumen negara yang sangat rahasia tersebut (soal UN). Sebagai dokumen negara yang sangat rahasia seyogyanya semua berpegang pada komitmen, kejujuran, dan tidak egois ingin mempertahankan popularitas diri dengan nilai ujian tertinggi. Ketidakjujuran muncul sebagai akibat dari tanggung jawab sebagai pelaksana kebijakan. Bentuk tanggung jawab yang demikian akan merusak tatanan anak bangsa yang sulit berkembang, pudarnya demokratisasi dan mempunyai sifat menunggu. Pemberlakuan berbagai paket soal telah dilaksanakan namun hasilnya masih tetap diragukan dan sarat masalah, sehingga pemerintah berinovasi dalam memberlakukan 20 paket soal dengan sistem dan format yang benar-benar mengukur kompetensi siswa.  ..............
Dampak yang terjadi dengan sistem ujian kali ini yaitu menjadikan sekolah, masyarakat dan pemerintah daerah harap-harap cemas akan keberhasilannya menghantarkan anak didik menuju pendidikan yang lebih tinggi. .................
Untuk menuju pendidikan berkualitas, seyogyanya tidak harus gonta-ganti paket soal, yang perlu dibenahi adalah sistem pelaksanaannya. Apapun yang menjadi kebijakan pemerintah dalam upaya untuk mengukur tingkat keberhasilan pendidikan adalah hal yang patut dilaksanakan sepanjang benar-benar mengukur apa yang harus diukur, dan tidak dijadikan sebagai tameng atas kebijakan menuju popularitas.
Jika dilihat dari kaca mata global,  pemerintah masih setengah hati dan belum siap menjadikan pendidikan berkualitas. Hal tersebut terbukti dari pelaksanaan ujian kali ini sarat masalah dan diundurnya pelaksanaan ujian di sebelas provinsi di Indonesia. Hal ini semestinya tidak terjadi, namun realitanya demikian dan dampaknya adalah menipisnya tingkat kepercayaan masyarakat di dunia pendidikan.  ..................
Menyoal masalah kualitas, didalamnya tidak terlepas dari kisaran tanggung jawab pemerintah terhadap peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), termasuk juga peranan masyarakat sebagai pelaku utama pendidikan. .....................
Berbicara masalah pendidikan masa depan, tidak terlepas dari sebuah inovasi ide, gagasan, yang disadari dan diterima  sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok orang untuk diadopsi.  ............. Untuk itu hendaknya menjadikan ujian dengan pemberlakuan 20 paket soal sebagai momentum untuk mencari bibit unggul yang berkualitas disegala jaman. Kedepan diharapkan tidak ada masalah separah pelaksanaan ujian kali ini, semuanya itu sebagai potret dan bercermin dari kegagalan untuk menuai keberhasilan.

Kamis, 21 Maret 2013

DAYA HANTAR LISTRIK


DAYA HANTAR LISTRIK DALAM LARUTAN
A.    Tujuan
Mengamati sifat daya hantar listrik pada beberapa larutan
B.     Alat dan Bahan
Alat                 : Gelas kimia, alat  uji elektrolit ,  Elektroda karbon, baterai, bola lampu senter, sakelar
Bahan              :
-          Air sumur  - Air kapur       - Etanol 75% 
-          Air jeruk    - Air hujan       - Larutan H2SO4  (air aki)
-          Air sabun   - Air gula         - Larutan asam Cuka 1 M
C.     Langkah Kerja
1.      Susunlah alat uji elektrolit  seperti gambar disamping! (gambar 1)
2.      Masukkan 100 mL air sumur ke dalam gelas kimia!
3.      Celupkan elektroda ke dalam air sumur tersebut  dengan jarak cukup lebar dan amati nyala lampu serta gelembung gas di elektroda
4.      Bersihkan kedua elektroda dengan air dan keringkan                             
5.      Dengan cara yang sama lakukan percobaan dengan larutan yang berbeda-beda yang telah disediakan
6.      Cara lain (gambar 2), masukkan air 100 mL ke dalam    gelas kimia, kemudian masukkan alat uji elektrolit, catat hasil yang diamati !
D.    Hasil Kerja
Percobaan ke
Larutan
Nyala Lampu
Gelembung Gas
Terang
Redup
Tidak Nyala
Ada
Tidak
1
Air sumur





2
Air jeruk





3
Air sabun





4
Air kapur





5
Air hujan





6
Air gula





7
Etanol 75% 





8
Larutan H2SO4





9
Larutan Cuka 1 M






E.     Permasalahan
1.      Sebutkan larutan diatas yang termasuk larutan elektrolit dan larutan non elektrolit !
Jawab : ....................................................................................................
2.      Sebutkan gejala yang timbul pada uji larutan elektrolit dan non elektrolit !
Jawab : .....................................................................................................
3.      Mengapa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan non elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik !
Jawab : .....................................................................................................
F.      Kesimpulan
........................................................................................................................