Slideshow

Jumat, 20 April 2012

UN BIDIK KUALITAS ATAU PERANG KEJUJURAN


UJIAN NASIONAL
BIDIK KUALITAS ATAU PERANG KEJUJURAN ?

Oleh :
IGN. Mataram, Guru Kimia SMA Negeri 1 Rendang


Jujur Hancur” demikian yang sering terlintas dibenak siswa dalam menyikapi pelaksanaan UN kali ini sebagai rutinitas tahunan yang telah berakhir 19 April 2012 ditingkat SMA/MA/K dan disusul pada sekolah tingkat SMP/MTs, senin 23 s/d 26 April 2012. Dulu orang berpikir bahwa UN adalah momok yang menakutkan, namun sekarang UN dituntut lebih sebagai  ”perang kejujuran” antara harapan dan kenyataan. Sebuah slogan yang patut dimaknai ”Prestasi Yes, Jujur Harus”. Siapa yang harus ”jujur”!. Apakah yang berprestasi harus jujur?, atau yang jujur harus berprestasi?. Semua berharap suatu keberhasilan disegala lini kehidupan termasuk diantaranya harapan akan hasil UN lebih berkualitas berfalsafah kejujuran dari sebelumnya. Namun apa yang menjadi suatu kenyataan bahwa UN kali ini tidak bedanya dengan tahun sebelumnya yaitu lebih ketat dalam pengadaan dan pendistribusian soal, banyak kecurangan (kebocoran soal), amplop soal ada yang kosong, jumlah soal disatu sisi kurang, disisi lain lebih, isi soal tidak sesuai dengan sebenarnya  dan yang terpenting  dibidik kejujuran disemua pihak (siswa, guru dan pemangku pendidikan). Harapan demi harapan muncul semoga pelaksanaan UN di tingkat SMP/MTs tidak terulang seperti pada pelaksanaan UN ditingkat SMA/MA/K.
Pemberlakuan lima paket soal dan sistem pendistribusian yang ditentukan pusat, membuat peserta didik sudah kalah sebelum berperang. Artinya bahwa siswa belum mengerjakan apapun sudah dicekoki dengan ketakutan, kecemasan dan tidak percaya diri. Sangat wajar jika emosi siswa tercurahkan setelah berakhirnya UN yaitu terjadi tawuran, kebut-kebutan dijalan, dan main corat-coret. Berarti pula bahwa karakter siswa belum tertanam dalam menyikapi sebuah perubahan dan belum siap menerima kekalahan. Hak dan kewajiban siswa merasa dijajah, terbelenggu, dihantui kecemasan oleh sebuah sistem. Belum pengumuman sudah berdampak, bagaimana setelah pengumuman mungkin tidak bisa dibayangkan. Dari tahun ke tahun pelaksanaan UN tetap saja sarat masalah, banyak SMS bodong yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Pemerintah mestinya mengevaluasi kembali dan disosialisasikan sampai ketingkat bawah prosentase keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan UN sebelumnya. Semua itu pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah dalam mempercayakan sekolah  akan kemampuan sekolah menjadikan anak bangsa berkualitas. Pemerintah masih menginabobokan dunia pendidikan, artinya belum diberikan kepercayaan penuh (baru 40%) sebagai otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan.  Memang benar apa yang menjadi ketakutan dan kecemasan  selama ini bahwa UN itu musuhnya berpikir siswa. Hal ini bukan dirasa hanya siswa saja, tetapi juga semua pihak termasuk  pengambil kebijakan baik pusat maupun daerah.
Sebuah tantangan bagi pemerintah daerah untuk mempertahankan keberhasilan UN sebelumnya. ”Jujur”  yang diharapkan hendaknya dimuali dari kelas atas, kemudian dikolaborasikan pada kelas bawah. Memang kita harus berpikir jujur dan positif bahwa suatu kebijakan akan berdampak positif sebagai awal menuju pembenahan di setiap jengkal kekeliruan. Konsekuensi dari semua ini adalah siswa hanya dijadikan objek penderita dalam perbaikan kualitas pendidikan. Karena hasil UN inilah dijadikan parameter menilai kualitas pendidikan yang dalam pelaksanaannya dituntut kejujuran. UN bukan satu-satunya penentu keberhasilan mutu pendidikan, namun perlu disimak bagaimana latar belakang peserta didik itu sendiri  baik dari status sosial, ekonomi dan letak geografis dimana peserta didik berada. Guru sebagai pendidik profesional ikut kena getahnya yaitu dituntut jujur dan benar-benar terbuka dalam menuntun siswa menggapai keberhasilan yaitu  kelulusan 100%. Namun perlu diketahui bahwa kualitas pendidikan tidak semata karena kualitas guru atau sekadar siswa lulus 100% tetapi bagaimana input (siswa) itu sendiri, sarana-prasarana, status sekolah dan juga lokasi sekolah.
            Yang menarik dalam pelaksanaan UN kali ini adalah sistem pendistribusian soal berubah seiring dengan jenis mata pelajaran yang diujikan. Artinya bahwa siswa mendapatkan paket soal berbeda setiap harinya. Apakah sistem ini menjadikan siswa lebih jujur, sehingga hasil lebih baik atau membuat siswa cemas dan tidak percaya diri. Harapan semua orang akan selalu mencari yang terbaik demi harga diri sebagai anak bangsa yang heterogenitasnya sangat beragam. Namun kita harus menyadari bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan yang sistem kehidupan satu dengan lainnya sangat berbeda baik dibidang  politik, ekonomi, sosial budaya dan terpenting dibidang pendidikan.
Pemegang kebijakan (pemerintah pusat) sudah bekerja keras bahkan berada pada puncak teratas menuju pendidikan berkualitas. Biaya yang hampir setengah triliun lebih dihabiskan untuk menyambut hajatan tahunan UN.  Biaya tinggi belum menjamin kualitas pendidikan, harus lebih memperhatikan sumber daya manusianya. Semua berharap motivasi siswa dalam belajar bukan semata untuk UN namun lebih dituntut jujur untuk membentuk karakter dan kepribadian intlektual yang lebih sebagai anak bangsa yang mengemban tugas berat dalam mengambil alih tugas kepemimpinan kedepan yang lebih berkualitas.
Ujian kali ini siswa lebih dituntut kualitas dan berperang melawan kejujuran yang hasilnya dijadikan cermin untuk bersikap kedepan yang lebih baik, jujur dan  transfaran. Prosentase keberhasilan atau kegagalan serta hambatan-hambatan yang ditemukan sebagai pijakan dan tolak ukur mau diapakan UN tahun depan! Harapan demi harapan dari hasil UN dapat memberikan andil besar dalam menunjukkan kualitas bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa tercermin dari kualitas pendidikannya, karena itu melalui  pendidikan sumber daya manusia dapat terekam sehingga keberhasilan di dunia pendidikan  akan tercapai.


IDENTITAS PENULIS :
Nama                     : I Gusti Ngurah Mataram
TTL                        : Sidemen, 30 April 1970
Instansi                  : Guru Kimia, SMAN. 1 Rendang
Alamat                  : Br. Bangbang Rendang-Karangasem (80863)
E-mail                    : ramgusti@yahoo.com
KTP./ HP        : 22.0802.300470.0002,  /  081338157123

Tidak ada komentar:

Posting Komentar